Tetapkan Ilmu Addin

Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh…

Yaa Ukhti, Masihkah antunna ingat sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Di antara tanda – tanda akan datangnya kiamat ialah dihilangkannya ilmu (tentang Addin) dan tetapnya kejahilan” (Shahih Bukhari, Kitab Al-‘Ilm, Shahih Muslim).

Yaa akhwatifillah…

Ternyata tercabutnya ilmu adalah salah satu tanda kiamat sughro lho! Tercabutnya ilmu din ini bukan dengan mencabut ilmu itu sendiri dari akal manusia, tapi maknanya adalah dengan wafatnya para ulama’ atau dengan kata lain adalah pemilik ilmu itu sendiri. Lalu manusia mengangkat orang – orang jahil untuk memutuskan dan menetapkan hukum dengan kebodohannya sehingga dia sesat dan menyesatkan orang lain. Lalu bagaimana dengan keadaan kita sekarang ini?  Bermunculan figure – figure bergelar ulama namun perkataan – perkataan dan fatwa – fatwanya tanpa dalil meresahkan segenap umat islam. Lalu apa gunanya MUI sebagai wakil ulamaIndonesiajika dalam masyarakat tetap banyak pelacuran, perjudian, dan perbuatan maksiat lainnya. Seperti firman Allah dalam Q.S Al Hajj: 8

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.” Maksud yang bercahaya Ialah: yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil.

”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”

Menuntut ilmu lah yang harus kita lakukan. Karena kalau kita lihat generasi muda kondisinya memang sudah parah. Misal, jika kita tanya pada seorang pemuda muslim tentang siapakah Muhammad saw, Abu Bakar, Utsman, ‘Aisyah, Khodijah, Umar, Ali itu? Maka mungkin sebagian besar menjawab dengan jawaban “tidak tahu” karena yang saya kenal Westlife, Christiano Ronaldo, Beckham, dsb. Na’udzubillahi min dzalik.

Yaa ukhti…

Ilmu itu ada dua macam, pertama adalah ‘Ilmu Ad-Din yang hukumnya fardhu ‘ain sebagai seorang muslim dan kedua adalah ilmu dunia yang hanyalah fardhu kifayah sehingga akan menjadi tidak wajib jika sudah ada muslim lain yang mempelajari. Namun, alangkah lebih baik jika kita menyeimbangkan porsinya hingga selain kita pandai ilmu dunia juga diimbangi ilmu din. Bila kita dapat begitu, alangkah majunya generasi Islam nantinya. Seperti jika ingat sejarah Islam dimana bangsa Arab yang jahil berubah menjadi sumber ilmu pengetahuan, dari masa kegelapan menuju masa penuh cahaya sebagai akibat dakwah Rasulullah, dan para shalafus shaleh. Dan tak lupa pada masa kekhalifahan Bani Umayyah dan Abbasiyah, telah terlahir ulama’ – ulama’ besar yang selain pandai di bidang agama jiga menjadi panutan di bidang ilmu pengetahuan. Tinta emas telah mengukir sejarah keagungan dan keluhuran Islam.

Namun sangat disayangkan semangat hidup kaum Muslimin untuk menuntut ilmu melemah sedikit demi sedikit. Hal ini ternyata berimbas ganda, yaitu lemahnya pemahaman umat Islam terhadap agamanya sendiri dan tertinggal pula dalam masalah ilmu dunia. Jadilah sekarang tertinggal dari umat lain dalam segala bidang. Musuh – musuh Islam mengetahui bahwa mereka takkan menang jika bertempur secara fisik maka mereka mengubah strategi dengan menjauhkan ilmu din dari umat muslim dan meracuni umat muslim dengan budaya kuffar. Sehingga umat muslim menjadi bodoh dengan agama mereka sendiri. Kaum kuffar dengan gigihnya mencuri, merampas, bahkan membakar buku – buku islam seperti yang dilakukan Bangsa Mongol padaBaghdad. Tak lupa Kaum Yahudi yang menciptakan teknologi yang dapat menjadikan manusia lalai dalam mengingat Allah. Sehingga dunia bagaikan surga bagi orang – orang bodoh.

Lalu munculah penyakit yang sudah disinyalir oleh Rasulullah dalam haditsnya yaitu penyakit Wahn, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati. Kalau sudah begini maka sudah dapat dipastikan Allah akan menurunkan adzabnya. Naudzubillahi min dzalik.

Islam, sebagai din yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan mencela kebodohan dengan celaan yang sangat keras. Berkenaan dengan hal itu, ada suatu kisah menarik shahabat mulia, Jabir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami pernah melakukan perjalanan, kemudian salah satu anggota rombongan terkena batu sampai terluka kepalanya. Ketika ia tidur ia bermimpi, lalu setelah bangun ia bertanya kepada temannya, “Apakah menurut kalian adakah keringanan buat saya untuk bertayammum?” Jawab teman – temannya, “Kami berpendapat bahwa tidak ada keringanan bagi Anda untuk bertayammum sebab Anda masih kuat menggunakan air!“ Lalu orang itu mandi kemudian meninggal. Ketika kami laporkan hal ini kepada Rasulullah, beliau bersabda: “Mereka telah mambunuhnya, celakalah mereka! Kenapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu, karena obat dari kebodohan adalah bertanya, sebetulnya cukup baginya untuk bertayammum dan mengompres lukanya atau membalutnya bagian atas kemudian baru membasuh seluruh tubuh”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Hatim, Ibnu Abbas)

Adajuga riwayat lain yang mungkin menjadi masalah umum juga. Suatu kali seorang pemuda terbangun didapatinya ia telah bermimpi, sedang waktu Shubuh telah tiba. Ia pun harus segera mandi. “Celaka!”, batinnya, ternyata dia tidak punya shampoo. “Mana ada warung yang berjualan shubuh – shubuh begini!”, gerutunya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mandi besar dan tidak sholat Shubuh pula hanya karena sebuah shampoo (yang dianggapnya sebagai syarat sahnya mandi janabah).

Yaa ukhti, 2 gambaran diatas sudah cukup menunjukkan bahwa kebodohan dapat mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Dan kelemahan sebagian manusia yang tidak kalah penting adalah ketidakmauan mereka dalam bartanya tentang sesuatu hal yang tidak diketahuinya. Padahal seperti yang telah disebutkan tadi obat kebodohan tentang segala hal adalah bertanya. Dan lawan kebodohan (Al Jahl) adalah mengerti (Al ‘Ilmu). Allah sendiri telah berfirman dalam Q. S Al Isro’: 36.

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Yaa Akhwatifillah, itulah peringatan Allah kepada manusia agar tidak berbicara / bersikap tanpa didasari dengan ilmu din yang benar agar tidak sesat dan menyesatkan. Agar lebih menambah semangat menuntut ilmu, kita harus tahu fungsi ilmu, yaitu:

  1. Sebagai alat untuk Ma’rifatullah. “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui makna dari LAA ILAAHA ILLALLAH maka masuklah ia ke dalam Jannah” (HR. Muslim)
  2. Menunjukkan jalan yang benar dan meninggalkan kebodohan. Ibnul Qoyyim mencuplik sabda Rasulullah: “Kebodohan itu suatu penyakit (penyembuhnya adalah dengan bertanya)”.
  3. Merupakan salah satu syarat dari diterimanya amal, karena tanpa ilmu, semua ibadah yang dilakukannya akan tertolak.

Ilmu juga memiliki keutamaan dibandingkan hal lainnya, yaitu:

  1. Mengangkat derajad pemiliknya, seperti dalam Q.S. Al Mujadalah: 11. Atinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
  2. Sebagai tanda bahwa pemiliknya berada diatas kebaikan. “Barangsiapa yang dikehendaki Allah padanya akan kebaikan maka Allah akan memahamkan din kepadanya”.
  3. Dimudahkan jalannya menuju jannah. “Barangsiapa menempuh suatu perjalanan dengan menuntut ilmu maka allah akan melapangkan jalannya ke Jannah” (HR. Muslim)
  4. Dinaungi oleh malaikat dan dido’akan oleh seluruh penghuni langit dan bumi.
  5. Tholabul ‘ilmi berada di jalan Allah. “Barangsiapa keluar untuk mencari ‘ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi)
  6. Seorang ‘alim (berilmu) lebih afdhol daripada seorang ahli ibadah (‘abid). “Sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas seorang ‘abid seperti kelebihan cahaya bulan dari seluruh bintang.” (HR. Tirmidzi)
  7. Mendapat pahala seperti pahala orang yang kepadanya diajarkan ilmu tersebut. “Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Tirmidzi)
  8. Pahala seorang ‘alim yang bermanfaat ilmunya tidak akan terputus walau ia telah meninggal.

Yaa Ukhti…

Marilah kita kobarkan lagi semangat mencari ilmu din dan mulai saat ini kita canangkan semangat “Tetapkan Ilmu Addin”. Berdo’alah kepada Allah supaya menjadi orang ‘Alim yang pada hakikatnya adalah orang yang ilmunya sesuai dengan amalnya dan amalnya sesuai dengan ilmunya. Wallahu a’lam bishowab

Ana mohon maaf jika sedikit dari saya ini masih jauh dari sempurna, karena ana hanya manusia biasa, dan kesempurnaan hanyalah milik Allahu Ta’ala. Jika ada benarnya, semoga bisa bermanfaat untuk ana pribadi dan antunna semua. Aamiiin.

Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.